Home National Politics Menyelamatkan Negara atau Sekadar Berbagi Kekuasaan

Menyelamatkan Negara atau Sekadar Berbagi Kekuasaan

E-mail Print PDF
Saat ketidakpuasan atas proses pemilu legislative terus bergulir, sejumlah elite politik bergerak untuk membentuk koalisi. Entah apa prioritasnya, menyelamatkan negara atau sekedar berbagi kekuasaaan

REVIEW, 13/4, Di Surabaya, Sirmaji masih terus bekerja mengumpulkan bukti-bukti berbagai bentuk kejanggalan dalam pemilu legislative. “Ini mengikuti perintah atasan,” ujar Ketua DPD PDIP Jawa Timur itu, Minggu (12/4).  Menurutnya ditemukan lagi 230.000 orang belum terdaftar masuk dalam DPT. Sedangkan di wilayah  basis pendukung PDIP seperti Jawa Tengah bagian Selatan para kader PDIP masih terheran-heran mengapa  suara yang diraih Partai Demokrat bisa sedemikian besar.
    Para pembesar PDIP, Gerindra serta Hanura memang telah mencapai kesepakatan untuk mengajukan gugatan bersama atas ketidakberesan yang terjadi menjelang dan selama hari pencontrengan 9 April kemarin. Untuk itu para kadernya diperintahkan untuk terus bekerja mengumpulkan bukti-bukti baru agar gugatannya bertambah kuat. Mereka yakin bahwa bila kecurangan dan ketidakberesan tidak terjadi pasti hasil pemilu berbeda. Maksudnya mereka pasti meraih suara lebih banyak lagi.
    Di luar pembicaraan soal gugatan bersama itu, kabarnya pertemuan Megawati dengan Wiranto serta dengan Prabowo, akhir pekan lalu, sudah mulai membicarakan rencana koalisi. Pasti suasananya amat berbeda mengingat saat ini muncul tanda-tanda surutnya rencana Golkar dan PPP untuk berkoalisi dengan PDIP. Kedua partai itu dikabarkan tengah mendekat ke Partai Demokrat yang saat ini unggul dalam perhitungan sementara hasil pemilu legislative.
    Kantor partai politik saat ini memang bertambah sibuk. Seharusnya mereka cukup membicarakan koalisi saja. Berapapun suara yang kini mereka peroleh dari pemilu legislative tetaplah penting. Paling banter pengumpul suara terbanyak hanya mampu meraih 20% saja dari seluruh total pemilih. Perlombaan adu pintar mengatur strategi  pun berjalan seru. Mereka mencari peluang agar mendapat  dalam pemerintahan baru. Sejauh ini belum ada  politisi yang menyatakan bahwa partainya memilih jadi politisi. Lihatlah apa yang tengah terjadi di Golkar.
    Keadaan itu membuat perhatian menjadi tidak terfokus pada satu masalah saja. Kendati  menuntut sempurnanya kualitas proses pemilihan umum, pejabat partai juga berpikir bagaimana mengamankan keuangan partai dengan cara mencari posisi-posisi penting dalam pemerintahan mendatang. Artinya mesti bisa berkompromi dengan partai pemenang. Dalam pengertian terakhir ini sulit membayangkan Golkar untuk mengambil resiko memilih kubu yang akan kalah dalam pemilu presiden mendatang. Semenjak lahir di awal Orde Baru, Golkar belum pernah menjadi oposisi.
***
   Terlepas dari segala hiruk-pikuk Pemilu 2009 yang masih terus berlangsung, tak bisa dipungkiri saat ini Indonesia ikut terjebak dalam kesulitan ekonomi besar. Usai pemilu tentu amat dibutuhkan sebuah pemerintahan kuat yang memiliki legitimasi sehingga masyarakat menaruh kepercayaan. Bila proses pemilu penuh ketidakberesan seperti sekarang terus berlangsung, sulit mengharap terwujudnya pemerintahan yang kuat.
Tak mudah mewujudkannya. Kita saat ini menghadapi perseteruan antar perwira tinggi militer yang berperan di saat-saat akhir Orde Baru. Wiranto,           Prabowo Subianto serta Soesilo Bambang Yudhoyono. Saat itu sebenarnya Megawati berada di kubu yang berbeda. Dia digadang-gadang kekuatan reformasi untuk tampil sebagai pemimpin baru. Namun cerita berikutnya berjalan mengikuti alur yang berbeda. Kekuasaan Soeharto surut namun, para jenderal itu hanya surut beberapa saat saja.
   Saat para politisi sipil gagal menciptakan pemerintahan yang kuat. Dalam lima tahun pertama surutnya Soeharto konflik terus terjadi di banyak daerah. Kondisi ekonomi mulai membaik sekitar 5 tahun setelah krisis ekonomi menghantam. Dalam tatanan baru yang tercipta itu  apa unsur-unsur Orde Baru yang sebelumnya ramai-ramai dimusuhi kekuatan reformasi tampil lagi.
   Penampilan mereka tentu tidak lagi seperti dahulu, namun bersama-sama unsur yang sebelumnya disebut kekuatan reformasi bersekutu membentuk blok-blok kekuatan sendiri. Sekarang persoalannya mereka saling berhadapan. Apa yang dibutuhkan ada kesadaran mereka sebagai warga negara. Bisakah mereka mengelola konflik dan kesulitan yang sekarang ada di depan mata mereka menjadi sebuah kekuatan untuk membebaskan kita semua dari kesulitan besar ini?




    
 

Indonesia News Headline

Review

Hiruk Pikuk Pembentukan Koalisi


Kelompok-kelompok politisi bertarung di sejumlah partai politik dalam menentukan mitra koalisi. Kendali koalisi bakal sulit dijalankan.  Rakernas pekan ini bisa jadi penentuan rujuk atau penajaman kon...

Gejolak Golkar dan Kegelisahan Kubu Cikeas

Selain memenangkan pemilu legislative, kubu Cikeas ingin dapat partner koalisi tangguh. Bila Golkar terpecah, siapapun presiden yang memerintah akan dapat tantangan besar. Imbas krisis ekonomi global ...

Papua Masih Terus Mencekam

Semenjak sebelum  hari pencontrengan 9 April tiba keamanan  di sejumlah kota-kota Papua sudah tergoyang. Potensi konflik masih besar menyusul ancaman para calon anggota legislatif asli Papua. Sayang p...

Menyelamatkan Negara atau Sekadar Berbagi Kekuasaan

Saat ketidakpuasan atas proses pemilu legislative terus bergulir, sejumlah elite politik bergerak untuk membentuk koalisi. Entah apa prioritasnya, menyelamatkan negara atau sekedar berbagi kekuasaaan

R...

Sudahlah Kita Jalani Saja

Bangsa Indonesia pada 9 April akan melaksanakan pemilihan umum. Inilah pemilu yang paling mengundang kontroversi. Terlalu banyak keributan timbul akibat berbagai kelemahan. Butuh hati nurani untuk men...

Pemilu susulan untuk mahasiswa Papua di Yogyakarta

REVIEW (9/4), Sebagian dari mahasiswa Papua di Yogyakarta yang mendatangi kantor KPUD DIY masih menunggu keputusan rapat terkait hak pilih mereka. Informasi terakhir menyebutkan akan dilaksanakannya p...

Pemilu Penuh Kejanggalan

Masa kampanye selesai sudah tanpa keributan.  Namun itu bukan jaminan Pemilu damai.  Rakyat mesti siap memilih meski banyak kejanggalan.

REVIEW, (6/4) Pekan lalu Ketua KPUD Kalimantan Barat, Muzamil, me...

More:

ReviewIndonesia.com Slide
 

Related Items